Postingan

Menampilkan postingan dari September 23, 2026

Saling Berbalas Ulok

Gambar
SALING BERBALAS ULOK Ditulis oleh : Harunsyah Arsyad _Aroma Kopi dan Bualan-Bualan Setinggi Langit Orang Labusel di Perbatasan_ Kalau jembatan beton sudah berhasil memotong panjangnya antrean ponton di *Sungai Barumun* dan *Sungai Rokan*, maka ada satu hal yang sampai kapan pun tidak akan pernah bisa dipotong oleh kemajuan zaman: yaitu kebiasaan membual di kedai kopi.   Bagi masyarakat Labusel dari Tepian Barumun sampai ke Rokan Hilir sana, kedai kopi itu bukan cuma tempat ngisi perut. Kedai kopi adalah "gedung parlemen tidak resmi" tempat adu gengsi, adu logika, dan tempat paling sah di dunia di mana seekor ikan sepat bisa berubah ukuran menjadi sebesar sampan yang ditarik pakai dayung. Membual bagi orang Labusel itu bukan berbohong untuk menipu. Membual itu seni bersastra lisan. Semakin tinggi langit bualannya, maka semakin tinggi pula harga diri dan tepuk tangan yang dia dapat. Di sebuah kedai kopi berdinding papan di tepian *Sungai Barumun di Kotapinang*, duduklah tiga or...

Kisah Kerajaan Kualuh Dahulu

Gambar
Gambar : Ilustrasi Istana Kualuh dan Mesjid Raya Tanjung Pasir KUALUH: Kerajaan yang Lahir dari Kompromi, Hidup dari daratan dan Sungai Kualuh sampai Selat Malaka, dan Mati di Malam Nahas Revolusi Sosial Sumatera Timur _*Ditulis oleh:*_ _*Harunsyah Arsyad*_ Kalau kamu berdiri hari ini di Tanjung Pasir, Kualuh Selatan, Labuhanbatu Utara, yang kamu lihat adalah 22 dusun, 10.224 jiwa petani sawit dan nelayan, dan satu masjid besar di tepi sungai yang keruh. Tidak ada istana. Tidak ada sisa tiang. Padahal 200 tahun lalu, dari sungai inilah satu kerajaan Melayu berdiri. *BAB I: PERPECAHAN DI ASAHAN (1808-1813)* Semua bermula bukan di Kualuh, tapi di Kesultanan Asahan. Kesultanan Asahan adalah kerajaan Melayu besar keturunan Aceh (Sultan Iskandar Muda) dan Panai (Puteri Siti Ungu), berdiri tahun 1630 dengan Sultan I Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah, putra Sultan Aceh dan Puteri Panai.  Di bawah Sultan Muhammad Hussein Syah, Asahan sangat disegani antara Serdang dan Siak. Pada tahun 1808-18...

Trik Wak Atan Sajojak Menghindari Ongkos SPSI

Gambar
Kisah Wak Atan Sajoja: "Menghindari ongkos SPSI Ditulis oleh: Harunsyah Arsyad Sore itu, air Sungai Barumun sedang surut-surutnya. Boat kayu penyeberangan dari Tanjung Sarang Elang menuju Labuhan Bilik bersandar agak rendah, membuat selembar papan titian pembawa motor miring curam ke bawah.   Wak Atan Sajoja datang membawa sepeda motor bebek lawasnya yang knalpotnya sudah digandeng karet ban dalam.  Di pinggir dermaga, para buruh panggul/sorong motor sudah bersiap. "Wak! Sika kayi tughunkan kagheta nyen. Cugham bonagh papannyen, licin kona lumpogh. Silap sikit, tacampak ko kang ka laut ten baseghak gigi palsu en!" teriak Lek Jamil, kepala buruh tangkahan setempat, lengkap dengan logat pesisirnya yang melengking. Wak Atan Sajoja, yang pantang dibilang tua apalagi dibilang tak mampu, langsung merengut. "Ehh, Jamil! Ko tengok do ghambutku ka, mamutih bukan kaghona uban, tapi kaghona kona gagham ikan masin! Sojak ko maseh layi badodot minum susu cap junjong, aku ka udah...

Wak Atan Sajojak Menanjak Gengsi di Labuhan Bilik

Gambar
  Wak Atan Sajoja Menanjak Gengsi di Labuhan Bilik "Haa, Wak Atan Sajoja! Udah sampek kita di Labuhan Bilek. Camana ja? Mau kami naekkan kagheta ko ka atas? Kali ka mananjak na, Wak. Silap sikit kagheta mu  mundogh, torjun payung ia sama mu ka lauten!" teriak buruh tangkahan Labuhan Bilik yang sudah mendapat operan cerita lewat hp dari kawan mereka di Tanjung Sarang Elang. Wak Atan Sajoja yang masih sakit pinggang akibat insiden menabrak karung beras tadi, langsung menegakkan punggungnya. Gengsinya yang setinggi menara masjid tak boleh runtuh di kampungnya Labuhan Bilik. "Ehh, usah banyak cakap ko! Kagheta ku ka biaghpun joman, tanaganya macam lumba-lumba mangojagh mangsa. Indak poghlu ko soghong-soghong macam mandoghong lombu mau kurban!" sahut Wak Atan Sajoja sambil memijit engkol motornya. Creeek... breemmm... prek... prek... asap hitam mengepul dari knalpot berikat karetnya. Penumpang lain yang ikut menyeberang hanya menggeleng-gelengkan kepala dari dalam boat. ...

Debat Kusir Ala Wak Atan Sajoja

Gambar
  *Debat Kusir Ala Wak Atan Sajojak* Setelah aman sampai di daratan, sudah hilang nafas satu-satunya tadi, sehabis berjuang di dermaga Tanjung Sarang Elang dan dermaga Labuhan Bilik. Wak Atan Sajojak menenangkan diri di sebuah warung kopi.  "Oii, Koling! Buat do kopi panas en satu! Kasih susu agak banyak, biagh aman do jantungku  ka abis bataghong sama Sungai Barumun en tain!" teriak Wak Atan Sajojak pada pemilik warung. Di sudut warkop, rupanya Lek Jamil dan beberapa buruh tangkahan tadi sudah duduk manis duluan sambil menikmati pisang goreng.  Begitu melihat Wak Atan Sajojak masuk, Lek Jamil langsung menyengir lebar. "Haa... ika lia pambalap kita baghu sampek! Camana ja lutut uwak en, aman kan? Masih bagotagh ja macam mosin jait en?" sindir Lek Jamil, memancing tawa seisi warung. Wak Atan Sajojak tidak menunjukkan muka malu sedikit pun. Dia justru memesan sebatang rokok, menyulutnya pelan, lalu mengembuskan asapnya ke udara dengan gaya sangat berwibawa. "Ko k...

Jalan baru Labuhanbatu-Kawasan Danau Toba

Gambar
  *Jalan Tembus Kampung Pajak - Danau Toba: Terobosan Konektivitas Labuhanbatu Raya ke Kawasan Strategis Nasional* _Proyek jalan baru yang menghubungkan *Kampung Pajak (Kecamatan Na IX-X, Labura)* menembus ke kawasan *Danau Toba* merupakan salah satu terobosan infrastruktur paling strategis yang digarap intensif oleh Pemprov Sumut dalam 3 tahun terakhir._ Ditulis oleh: Harunsyah Arsyad Jalur ini bukan sekadar jalan alternatif, tapi jalan pintas diagonal yang memangkas isolasi puluhan tahun di kawasan perbukitan Habinsaran, Borbor, dan Nassau. *Rute dan Konektivitas Wilayah* Titik nol dimulai dari *Kampung Pajak* masuk ke pedalaman hulu via *Aek Natas / Simonis*, membelah kawasan perbukitan dan hutan, lalu menembus perbatasan di *Parsoburan (Kecamatan Habinsaran / Nassau, Kabupaten Toba)*. Dari Parsoburan, jalan provinsi tersambung ke *Silimbat* dan langsung terhubung ke jaringan lingkar luar Danau Toba dan ke Bandara Silangit. Secara administratif, ruas ini masuk dalam dua segmen u...

Torehan Sejarah Ayam Kinantan

Gambar
  _*Ket. Gambar : PSMS vs Ajax 1975*_.  _Foto Bersama Skuad PSSI Wilayah I (PSMS) dan Ajax Amsterdam_   * _*Posisi Berdiri*: Kapten PSMS Yuswardi berdiri di sebelah kapten Ajax Ruud Krol bersama bintang dunia Johnny Rep, Arie Haan, dan Horst Blankenburg._  * _*Posisi Jongkok*:_ _Ditempati para pemain lokal seperti Zulkarnaen Pasaribu, Mariadi, Pariman, Ismail Ruslan, Parlin Siagian, Suwarno, Nobon, Suparjo, Sunardi B, dan Sarman Panggabean, serta kiper Ajax Heinz Stuy_ *TOREHAN SEJARAH DI STADION TELADAN MEDAN, 7 JUNI 1975 PSSI WIL. I (PSMS MEDAN SANG AYAM KINANTAN) BANTAI RAJA EROPA, AJAX AMSTERDAM 4-2* Ditulis oleh : Harunsyah Arsyad Bernostalgia ke era 70an, saat media komunikasi dan informasi terbatas. HP belum ada, televisi hanya ada channel TVRI kecuali di pesisir Timur Sumatera yang pasang tiang tinggi dapat mengakses siaran dari saluran televisi negeri jiran (Malaysia). Siaran langsung sepakbola sesekali ada dari Stasiun Radio RRI yang aksesnya sudah dap...

Menara Air Tirtanadi Medan

Gambar
MENARA AIR TIRTANADI: Saksi Bisu 120 Tahun Transformasi Medan dari Kampung ke Kota Modern Ditulis oleh : Harunsyah Arsyad Berdiri kokoh setinggi 42 meter dengan berat 330 ton di persimpangan Jalan Sisingamangaraja - Jalan Pandu, Menara Air Tirtanadi bukan sekadar bangunan tua. Ia adalah ikon paling otentik, penanda kapan Medan mulai berubah dari permukiman sederhana di tepi Sungai Deli menjadi kota modern. *Dibangun Belanda Tanpa Pompa, Hanya Andalkan Gravitasi (dari ketinggian daerah Sibolangit kemudian di tampung di bak menara tinggi lalu didistribusikan)* Pembangunan menara ini diinisiasi oleh pemerintah kolonial Belanda pada *8 September 1905*. Proyek ini dijalankan oleh perusahaan air bersih yang berpusat di Amsterdam, *NV Waterleiding Maatschappij Ajer Beresih*, di bawah pimpinan *Hendrik Cornelius Van Den Honert*. Pembangunan rampung sepenuhnya pada akhir *1908*. Hebatnya, teknologi awalnya sangat ramah lingkungan dan canggih di zamannya. Tidak pakai mesin pompa. Air bersih diam...

Titi Gantung Medan Dari Dahulu Hingga Sekarang

Gambar
Ket.Gambar : Diorama Titi Gantung Medan Dari Era Kolonial, Pasar Buku Bekas Era Pasca Kemerdekaan, dan Era Heritage Kota Medan TITI GANTUNG MEDAN: Saksi Bisu di Samping Stasiun Besar Medan yang Melihat Medan Berubah Selama 140 Tahun Ditulis oleh: Harunsyah Arsyad Titi Gantung bukan sekadar jembatan penyeberangan. Ia bagaikan mesin waktu yang membelah sejarah Kota Medan. Membentang kokoh di samping Stasiun Kereta Api Medan, infrastruktur bergaya Victoria klasik ini telah menyaksikan transformasi Medan dari kota perkebunan kolonial yang riuh hingga menjadi metropolis modern. Perjalanan panjangnya terbagi dalam tiga fragmen zaman. *1. Masa Kolonial (1885): Dibangun untuk Keselamatan, Jadi Tempat Rendezvous Meneer dan Noni* Jembatan ini didirikan sekitar *tahun 1885*, bersamaan dengan pengembangan Stasiun Medan oleh perusahaan kereta api Belanda *Deli Spoorweg Maatschappij (DSM)*.  Tujuannya murni keselamatan. Jalur rel saat itu membelah kota, memisahkan permukiman padat di sisi Timur ...