Postingan

NELAYAN KERANG TANJUNGBALAI DAHULU DAN SEKARANG

Gambar
  NELAYAN PENCARI KERANG DI TANJUNG BALAI DAHULU DAN SEKARANG Dari Masa Kejayaan "Kota Kerang" Hingga Perjuangan Bertahan Hidup Ditulis oleh : Harunsyah Arsyad Tanjungbalai menyandang julukan "Kota Kerang" bukan karena seremoni, tapi karena keringat. Sejak lama, hidup warga kota ini menggantung di perairan muara (estuari) tempat bertemunya Muara Sungai Asahan dengan Selat Malaka . Di sanalah para nelayan tradisional tumbuh bersama lumpur dan pasang surut. Tapi potret nelayan kerang dulu dan sekarang, sudah sangat berbeda. Ibarat air laut, ada pasang ada surutnya. ERA 1980an - AWAL 2000an: MASA KEEMASAN Di masa ini, menjadi nelayan kerang itu profesi menjanjikan. Ekonomi baik. 1. Hasil Melimpah Ruah : Ekosistem muara masih perawan. Kerang, terutama kerang dagu (kerang batu) dan kerang bertabur di lumpur kuala di mana-mana. Nelayan tidak perlu ke tengah laut. Cukup tunggu air surut, pergi sedikit ke lapak, pulangnya sudah berkilo-kilo, bahkan bisa berkaleng-kaleng. 2....

KAITAN PENAMAAN WILAYAH PETISAH DENGAN LEGENDA PUTRI HIJAU

Gambar
  KAITAN PENAMAAN WILAYAH PETISAH DENGAN LEGENDA PUTRI HIJAU Ini kisah yang menyambung antara legenda, sungai Deli, dan jejak istana Kesultanan Deli.  Ditulis oleh : Harunsyah Arsyad Berakar dari Kerajaan Deli Tua di Benteng Putri Hijau Jauh sebelum Medan ada, pusat kerajaan ada di hulu Sungai Deli, di Desa Deli Tua sekarang (di Selatan Medan Johor). Ini bekas Kerajaan Aru / Deli Tua abad 13-16. Bentengnya bukan terbuat dari batu bata, tapi tanggul tanah raksasa setinggi 3-4 meter seluas 1500 x 400 meter, diperkuat parit dan rumpun bambu. Di sinilah hidup Putri Hijau , putri jelita yang legendaris berdarah Karo. Situs ini sampai sekarang masih ada Pancur Gading — pancuran mata air yang dipercaya tempat mandi pribadi sang Putri, airnya jernih, sejuk dan tidak pernah kering. PERANG BESAR: Deli Tua vs Kesultanan Aceh Kecantikan Putri Hijau terdengar sampai Aceh. Sultan Aceh datang melamar, tapi ditolak keras oleh dua abangnya: Mambang Yazid dan Mambang Khayali .  Penolakan ...

Madrasah Ulumil Arabiyah (MUA) Tanjungbalai Riwayatmu Dulu

Gambar
Syeikh Abdul Hamid Pendiri Sekolah MUA (Madrasah Ulumil Arabiyah) Tanjungbalai Kata Melayu telah dikenal mulai sekitar tahun 100 - 150 SM seperti yang tersebut dalam buku Geographike Sintaxis karya Ptolemy yang menyebutkan maleu-kolon. Dan kemudian dalam kitab Hindu Purana pada zaman Gautama Buddha terdapat istilah Malaya Dvipa yang bermaksud tanah yang dikelilingi air. Kemudian setelah itu sekitar abad ke 7 muncullah kerajaan melayu tua di Sumatera yang masih menyembah berhala (Hindu) seperti Jambi, Sriwijaya, Perlak, Dharmasraya (sesuai catatan Marcopolo). Setelah Sriwijaya ditundukkan dan dilemahkan oleh Raja Chola dari India (sekitar abad ke 11) lalu pada abad ke 13 kerajaan kerajaan melayu tua itu bangkit kembali dengan wajah baru setelah  sampainya pengaruh Islam dari Kerajaan Samudera Pasai di Aceh. Pada abad ke 17 kerajaan kerajaan melayu tua (Hindu) itu telah berganti menjadi kerajaan Melayu Islam, seperti Pagaruyung dan Siak. Akhirnya muncul pulalah kerajaan ker...

Lorong Pucuk Tanjungbalai

Lorong Pucuk Sejak dahulu sampai sekarang namanya masih disebut orang Lorong Pucuk. Sebuah kawasan di sudut kota Tanjungbalai yang terletak dan berbatasan dengan Sungai Silau di sebelah Utara, Jalan Veteran di sebelah Timur, Jalan Julius Usman di sebelah Selatan dan Jalan Taqwa di sebelah Barat. Antara sekolah Gubahan di Utara dan sekolah MUA di Selatan. Tahun 70an ke bawah di kawasan ini banyak terdapat rumah rumah penduduk yang menghasilkan rokok daun. Penduduk di kawasan itu mengolah pucuk pucuk daun nipah yang didatangkan dan dibawa para pelayar dari Timur (Kualuh, Labuhan Bilik, Sungai Berombang bahkan Panipahan-Riau) melalui Selat Malaka masuk ke Sungai Asahan lalu terus ke Sungai Silau sedikit melewati Pajak Kawat.  Tak heran bila kita melewati kawasan itu sampai dengan akhir tahun 70an maka akan banyak kita jumpai ikatan ikatan pucuk pucuk nipah di kolong kolong rumah panggung dan halaman rumah disitu. Sisa sisa dari pucuk nipah yang telah diambil helai bakal daun...

Artis Jadul Asal Tanjungbalai

Gambar
Deretan Artis Lama Skala Nasional dan Internasional  Asal Kota Kerang Hadisjam Tahax nama aslinya Idam Sjamsuddin bin Taha. Lahir di Tanjungbalai 15 Agustus 1927. Dibesarkan di daerah Lorong Pucuk Tanjungbalai. Merantau ke ibukota dan berkecimpung di dunia perfilman. Sering memerankan peran antagonis. Pendidikan : Anglo Indonesia School Medan sampai kelas VII. Tahax terjun ke film sejak tahun 1955 sebagai pemain. Film filmnya antara lain : "Peristiwa Danau Toba" (1955), "Sungai Ular" (1961), "Pelacur" (1975), "Tengkorak Hitam" (78) dan lain-lain. Hingga akhir 1977 ia telah main kurang lebih dalam 40 produksi film kebanyakan mendapatperan sebagai lawan main pemegang peran utama, dan umumnya berkarakter jahat. Dalam film "Luka 3 Kali" (1965), ia tampil sebagai pemain utama. Di luar film Tahax aktif di bidang sandiwara TV dan pentas. A.R Tompel nama aslinya Aman Ramli Jaafar. Aman Ramli Jaafar dilahirkan pada 24 Oktober tah...

Tangkahan Cap Go Can Tanjungbalai

Gambar
Boom, Tangkahan Tigo Sen dan Cap Go Can  Boom Tanjungbalai Pada masa lampau ada beberapa tangkahan tempat naik turunnya penumpang menggunakan moda transportasi sungai dan laut dari dan ke Tanjungbalai selain Pelabuhan (Boom) yang terletak di Jalan Asahan Tanjungbalai di tepian Sungai Asahan. Pada masa kolonial Belanda sampai akhir tahun 80an pelabuhan ini masih berfungsi sebagai pelabuhan laut antar pulau yang kebanyakan dari Tanjungbalai ke daerah daerah di pesisir Riau (untuk pelabuhan internasional digunakan Pelabuhan Laut Teluk Nibung), ekspor impor melalui pelabuhan ini terutama ke Tanah Semenanjung. Gambar : Gedung Syahbandar Tandjoengbalei masa kolonial saat air pasang (terletak di depan Boom Tanjungbalai) Boom Tanjungbalai itu adalah tempat bersandarnya kapal kapal kayu berukuran sedang. Setelah terjadinya pendangkalan terus menerus terhadap Sungai Asahan dan belum pula direspon oleh pemerintah pusat selaku pemilik kewenangan tentang sungai maka lambat laun k...

Stasiun Kereta Api Tanjungbalai

Gambar
Stasioen Kereta Api Tandjoengbalei  Salah satu bangunan peninggalan kolonial Belanda di Tanjungbalai adalah Stasiun Kereta Api Tanjungbalai yang sekarang terletak di sisi jalan Letjen. Suprapto Kel. Tanjungbalai IV Kec. Tanjungbalai Utara, Tanjungbalai. Di awal tahun 1980an s.d 1990an dahulu di depan stasiun kereta api ini ada berdiri sebuah bioskop bernama Bioskop Ganesha. Bioskop ini umumnya hampir setiap malam memutar film Hindustan saja. Pemiliknya adalah seorang pengusaha keturunan India di kota ini yang juga pemilik Bioskop Garuda di jalan Cokroaminoto Tanjungbalai. Pada masa kolonial dahulu di kawasan ini, mulai dari tepian Sungai Asahan (sekarang S. Dengki) di sebelah Timur sampai tepian Sungai Silau di sebelah Selatan dan Timur serta Sungai Tualang Raso (Sungai Kapias) di sebelah Utaranya hanya dijadikan sebagai kompleks dari Deli Spoorweg Maatschappij (DSM). Pada masa itu pergudangan dan rel kereta api DSM ini sampai ke ujung daratan di tepian Sungai Silau di pe...