Postingan

REL UNTUK TEMBAKAU

Gambar
  REL PERTAMA SUMATERA UNTUK TEMBAKAU: Kisah Jalur Kereta Api Pertama di Sumatera yang Lahir di Belawan Ditulis oleh: Harunsyah Arsyad Jika Pelabuhan Belawan adalah nafasnya, maka jalur kereta api Medan-Belawan adalah paru-parunya. Banyak orang Sumut tidak tahu, rel yang tiap hari masih berderak membawa rangkaian gerbong dan kontainer dari dan ke Belawan itu adalah jalur kereta api pertama di seluruh Pulau Sumatera. Jauh sebelum rel ada di Aceh, di Palembang, atau di Padang, kereta pertama Sumatera justru meraung di antara kebun tembakau Deli dan pelabuhan Belawan. Dan ia lahir pertama kali itu bukan untuk penumpang manusia, tapi untuk tembakau. 1. Pangkal Masalah: Tembakau Deli Butuh akses Jalan Cepat Tahun 1863, Jacob Nienhuys membuka perkebunan tembakau pertama. Dalam 20 tahun, Tembakau Deli menjadi komoditas paling mahal di dunia. Daunnya pembungkus cerutu dipasarkan di Bremen, Jerman. Masalahnya, mengangkut ratusan ton tembakau dari pedalaman (Tanjung Morawa, Timbang Langkat, ...

DARI LABUHAN KE BELAWAN DAHULU

Gambar
  BELAWAN: Pelabuhan yang bergeser dari Labuhan Deli Pusat Pengiriman Lada Kesultanan Deli Hingga Pelabuhan Terbesar Se-Hindia Belanda Ditulis oleh: Harunsyah Arsyad Kalau orang bilang Medan adalah jantungnya Sumatera, maka Belawan adalah nadi yang memompakan darahnya ke seluruh dunia. Banyak yang mengira Belawan adalah pelabuhan dari masa Kesultanan Deli dahulu. Padahal tidak. Labuhan jauh lebih tua dari itu. Perjalanannya adalah perjalanan 4 abad, dari sebuah bandar lada di tepi Sungai Deli, hingga bergeser ke Belawan menjadi gerbang peti kemas internasional yang tak pernah tidur. Ini linimasa lengkapnya. FASE 1: Era Kesultanan Deli – Ketika Dunia Mengenal Labuhan Deli (1632-1862) Jauh sebelum nama Belawan ada di peta dunia, yang ada adalah Labuhan Deli. Di tepi Sungai Deli yang lebar dan dalam, berdirilah pusat Kesultanan Deli. Dibangun sejak masa Tuanku Panglima Gocah Pahlawan (1632-1669), Labuhan Deli bukan sekadar pelabuhan, tapi ibukota. Tahun 1823, John Anderson, utusan Gub...

KISAH RRI MEDAN

Gambar
  RRI MEDAN: Dari Kampung Baru yang Dibakar Sekutu, Hingga Jadi Suara Emas Sumatera Utara Ditulis Oleh: Harunsyah Arsyad Jauh sebelum ada TV, sebelum ada gadget, satu-satunya yang membuat orang sekampung berhenti bekerja hanyalah suara dari pesawat radio kayu: _"Inilah Radio Republik Indonesia Stasiun Medan..."_ 1. Cikal Bakal: Dari Radio Tuan Belanda* Tahun 1930-an, di Medan belum ada RRI. Yang ada radio milik Belanda: - MOVA (Meyers Omroep Voor Allen) milik tuan Meyers - AVROM (Algemene Vereniging Radio Omroep Medan) - NIROM – jaringan radio terbesar Hindia Belanda yang dapat dana dari pajak radio. Siarannya masih bahasa Belanda, untuk orang Belanda. Rakyat kita hanya bisa curi-curi dengar dari luar jendela. Ketika Jepang masuk 1942, semua diambil alih jadi Medan Hoso Kyoku . Semua berita harus disensor di kantor propaganda Jepang (BUNKAKA). Tidak boleh ada terdengar kata Merdeka. 2. Masa Paling Kelam: Pindah-Pindah, Dibakar, Mengungsi 1945, Jepang menyerah. Pemuda Medan ne...

MARAH HALIM CUP, Ketika Medan Menjadi Salah Satu Kota Gila Bola Dunia

Gambar
  Gambar ilustrasi antusias masyarakat di Stadion Teladan dahulu saat pertandingan sepakbola besar MARAH HALIM CUP: Ketika Medan Menjadi Salah Satu Kota Gila Bola Dunia Ditulis oleh: Harunsyah Arsyad Jika Jakarta punya Ali Sadikin Cup, Surabaya punya Surya Cup, maka Medan pernah punya sesuatu yang jauh lebih melekat di hati masyarakat Sumut. Namanya Marah Halim Cup. Ini bukan turnamen lokalan. Ini adalah fenomenal. Sebuah pesta bola internasional yang membuat Stadion Teladan masuk kalender resmi FIFA sejak 1974 dan menjadikan Medan, untuk sesaat, sebagai episentrum sepak bola Asia. Di era ketika siaran langsung luar negeri masih langka, anak-anak Medan justru bisa menyaksikan langsung timnas Jepang, Korea Selatan, Burma, hingga klub-klub Belanda dan Jerman Barat berlaga di tanah mereka sendiri. Dan semua itu berawal dari seorang Gubernur yang gila bola. Dari Ide Ulang Tahun Kota Medan, Jadi Kalender FIFA Namanya Mayor Jenderal Marah Halim Harahap, Gubernur Sumatera Utara periode 19...

BENTENG KERAJAAN ARU (BENTENG PUTRI HIJAU)

Gambar
  Ilustrasi Penampakan Benteng Putri Hijau/ Benteng Aru di Deli Tua Dahulu: - *Dindingnya:* Gundukan tanah alami setinggi *4-5 meter dari luar, 2 meter dari dalam* — karena bagian luarnya digali jadi parit, jadi terlihat lebih tinggi dari luar. Lebarnya *4-5 meter* di atas, cukup untuk 4 orang berjaga berdampingan. Ditumbuhi rumput dan semak, bukan batu. - *Paritnya:* Di sekeliling gundukan ada *parit / fossa sedalam 2-3 meter, lebar 4-5 meter* yang terhubung ke *Sungai Deli* — itu pertahanan utamanya. Kalau musuh mau masuk, harus berenang dulu, baru manjat tanah licin setinggi 5 meter. - *Di dalamnya:* Ada perkampungan panggung kayu Karo-Melayu tempat Putri Hijau dan rakyat tinggal — persis seperti kampung Karo di pegunungan sekarang, tapi di atas bukit buatan. - *Arkeolog menemukan pecahan keramik Cina, tembikar, dan uang dirham Aceh* tertimbun di dalam tanahnya — itu bukti perdagangan Aru dari abad 13-17.  Jadi bayangkan, tahun 1612 pasukan Aceh yang membawa meriam besar it...

MERIAM PUMTUNG SAKSI BISU TRANSFORMASI KERAJAAN ARU MENJADI KESULTANAN DELI

Gambar
  MERIAM PUNTUNG SAKSI BISU TRANSFORMASI KERAJAAN ARU MENJADI KESULTANAN DELI Ditulis oleh: Harunsyah Arsyad *1. Asal-usulnya: Perang Aru vs Aceh (1612)* Cerita rakyat Melayu Deli-Karo  *Putri Hijau* — putri Kerajaan Aru (Haru) yang cantiknya memancarkan cahaya hijau zamrud. Dia tinggal di Benteng Putri Hijau, Deli Tua, bersama dua saudaranya: *Mambang Yasid* (kakak) dan *Mambang Khayali* (adik). Sultan Aceh, Iskandar Muda, mendengar kecantikannya dan mau meminangnya. Lamaran ditolak mentah-mentah oleh Mambang Yasid karena dianggap licik. Sultan Aceh marah, kirim pasukan besar di bawah Panglima Gocah Pahlawan untuk menyerang Aru. Benteng Aru sangat kuat, Aceh tidak bisa tembus. Akhirnya Aceh memakai siasat kotor: *menembakkan ribuan uang emas ke dalam benteng.* Penjaga benteng berebut emas, meninggalkan pintu gerbang. Pasukan Aceh pun dapat masuk dan membunuh Raja. Seisi istana dihancurkan.  Saat benteng mau jatuh, Mambang Khayali — yang sakti — melakukan pengorbanan tera...