SELAT MALAKA NAN SEKSI

 


SELAT MALAKA NAN SEKSI

Ditulis oleh : Harunsyah Arsyad

*SEBELUM KEJAYAAN VOC — SELAT MILIK ORANG MELAYU-ACEH (Masa 1300an-1600an)*

Dulu Selat Malaka itu milik kita. Kerajaan Aru (Deli Tua), Pasai, Perlak, dan kemudian *Aceh Darussalam* adalah penguasa selat.

Perdagangannya antara lain:

- Lada, kapur barus, kemenyan, emas dari pedalaman Karo bahkan dari daerah Minangkabau dibawa turun lewat *Sungai Wampu, Deli,  Asahan, Kualuh, Barumun, dll* ke Labuhan (Deli). 

- Di Labuhan, dibeli pedagang Gujarat, Arab, dan Cina. 

- Dijual ke Malaka (sebelum 1511 di tangan Sultan Malaka, setelah 1511 di tangan Portugis), lalu ke Eropa

Aceh masa itu sangat kuat. Tahun 1615, dalam surat Sultan Iskandar Muda ke Raja Inggris James I, ia mengklaim semua pelabuhan Timur Sumatera dari Tamiang sampai Rokan sebagai miliknya. Tujuannya satu: *monopoli lada* untuk melawan Portugis di Malaka.

*VOC DATANG — SELAT DIPECAH DUA (1602 - 1799)*

Tahun 1602 VOC Belanda dibentuk, tahun 1619 Batavia didirikan. Tahun 1641, Belanda dan Johor bersekutu merebut *Malaka dari Portugis*.

Sejak itulah Selat Malaka dipecah:

*Sisi Barat (Semenanjung Malaya):* Di bawah Johor, lalu setelah Johor lemah di bawah *Siak Sri Indrapura (1722)*. Siak ini yang kemudian mengklaim semua pantai timur Sumatera sebagai bawahannya — Deli, Serdang, Langkat, Panai, Bilah — Tapi itu hanya pengakuan di atas kertas, karena secara faktual dikuasai Aceh dan kerajaan-kerajaan lokal.

*Sisi Timur (Sumatera):* Di bawah Aceh yang makin melemah setelah wafat Iskandar Thani 1641 (menantu Sultan Iskandar Muda). VOC tidak langsung menguasai pantai timur, tapi menerapkan sistem *kontrak lada (peper contracts)*. VOC paksa setiap kerajaan kecil untuk hanya jual lada ke VOC dengan harga murah.

Dampak untuk Deli?

Perdagangan jadi lesu. Labuhan Deli tidak lagi ramai seperti era Aru. Kesultanan Deli dan Serdang bertahan dengan jual lada secara selundup ke Penang yang sudah didirikan Inggris tahun 1786 oleh Francis Light. Banyak kapal Melayu Deli diam-diam pada malam hari bawa lada ke Penang, karena Inggris mau membayar 3x lipat dari VOC. Inilah cikal bakal hubungan Medan-Penang sampai hari ini.

VOC bangkrut 1799, kemudian diambil alih oleh pihak Kerajaan Belanda. Belanda coba membangkitkan monopoli lewat sistem tanam paksa, tapi Inggris sudah terlanjur kuat di seberang (Semenanjung Malaya).

INGGRIS MASUK SEMENANJUNG, BELANDA MASUK DELI — PENJAJAHAN BERKEDOK ALA PEREBUTAN MODERN (1824 - 1870)

Ini babak paling penting untuk lahirnya Medan modern.

*Traktat London 1824:* Inggris dan Belanda membagi Selat Malaka. Inggris mendapat *Semenanjung Malaya + Singapura (1819)*, Belanda mendapat *Sumatera*. Sejak itu secara resmi Pantai Timur Sumatera diserahkan ke Belanda. Tapi Aceh tidak setuju. Aceh tetap menganggap Tamiang, Langkat, Deli, Serdang, Asahan, Panai, Bilah, sampai Rokan adalah miliknya.

*Perang Perebutan Pantai Timur 1853-1865:*

Sultan Aceh *Ibrahim Mansur Syah* tidak terima Belanda mengakuisisi pantai timur lewat *Traktat Siak 1858*. Dia mengirim *Panglima Teuku Husein dengan 200 kapal perang (1853)* untuk memulihkan kekuasaan Aceh di Tamiang, Langkat, Deli, Serdang, Asahan, Panai, Bilah. Dia bangun benteng di *Pulau Kampai dan Tamiang*. Bendera Aceh dikibarkan lagi di Labuhan Deli.

Belanda panik. Mereka kirim *Ekspedisi Besar 1865 ke Asahan, Serdang, Batu Bara, Tamiang*. Hasilnya: Asahan diduduki, bendera Aceh diturunkan paksa, dan Deli ditekan.

Inilah momen yang menentukan sejarah Medan.

Karena ditekan Aceh dan Belanda sekaligus, *Sultan Deli saat itu, Sultan Ismail, butuh pelindung baru.* Dia mencari investor yang bisa memberi uang dan senjata untuk melawan tekanan Aceh. Datanglah orang Ceko-Belanda bernama *Jacobus Nienhuys tahun 1865*.

Sultan Ismail memberikan *konsesi tanah luas* kepada Nienhuys untuk menanam tembakau. Tahun 1869 Nienhuys mendirikan *Deli Maatschappij* di Labuhan Deli. Tahun 1870, lahir *Agrarische Wet* Belanda yang membolehkan pengusaha menyewa tanah kerajaan.

*Booming Tembakau Deli (1870-1900):* Sekali meledak, Selat Malaka berubah fungsi.

Dulu dari Selat Malaka kapal-kapal membawa lada, sekarang ramai membawa *tembakau, karet, dan kelapa sawit*.

- Tembakau Deli dari Medan dikirim lewat Selat Malaka ke Eropa via Penang dan Singapura (pelabuhan Inggris) karena kualitasnya terbaik di dunia untuk cerutu yang digemari dunia saat itu. 

- Tenaga kerja didatangkan massal dari Jawa dan Tiongkok (Tiongkok lewat Singapura)

- Uang dari London, Amsterdam, dan New York mengalir ke Tanah Deli. 

Labuhan Deli yang berawa-rawa dan rawan banjir sudah tidak sesuai lagi untuk menampung pembangunan dari uang yang banyak itu. Maka *Sultan Ma'moen Al Rasyid memindahkan ibu kota dari Labuhan ke Medan Darat tahun 1888* dan membangun *Istana Maimun* serta *Masjid Raya*. 

Medan yang tadinya hanya hutan di antara dua sungai (sebagian kecil adalah lahan Guru Patimpus), dalam 20 tahun menjadi kota kolonial modern dengan rel kereta api, bank, Sentra Perdagangan Kesawan, dan Perkebunan Polonia Helvetia— semua karena Selat Malaka sudah dikuasai dua kekuatan Eropa yang bersaing.

*Kesimpulannya :*

Setelah VOC berkuasa, Selat Malaka tidak lagi jadi lautnya Kerajaan Aceh. Selat Malaka telah dibagi: *Barat (Semenanjung Malaya) punya Inggris, Timur (Sumatera) punya Belanda*. 

Persaingan itu justru menguntungkan Deli. Deli yang terjepit antara klaim Aceh, Siak, Belanda, dan Inggris akhirnya membuat konsensi tanahnya ke pengusaha Eropa. Dari hasil konsensi itulah lahir Kota Medan modern.

Kalau zaman Aru dulu, Selat Malaka itu *jalur rempah untuk Sultan*. Setelah VOC dan Inggris, Selat Malaka menjadi *jalur tembakau untuk kerajaan dan perusahaan.* Dan dari peralihan itulah Medan yang kita kenal hari ini lahir.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUNGAI BEROMBANG DARI MASA KE MASA

LEGENDA GUA "LIANG NAMUAP" DI SIBUHUAN SOSA

Sungai Dua Tanjungbalai