Hasil Rapat Panitia Pelaksana terakhir pada tanggal 7 Desember 2013 di kediaman Deliana, hari pelaksanaan Reuni tersebut dimundurkan ke tanggal 18 Januari 2014 dengan waktu, tempat dan agenda acara yang sama.
Cerita Rakyat : LEGENDA GUA "LIANG NAMUAP" DI SIBUHUAN SOSA Dikisahkan oleh : Drs. Harunsyah, M.AP berdasarkan survey lokasi, dialog dengan penjaga kunci gua dan penuturan tokoh masyarakat setempat Alkisah tersebutlah sebuah kerajaan kecil di Sosa-Sibuhuan. Raja ini bermarga Hasibuan yang mempunyai seorang putri cantik jelita, kulitnya putih halus sehingga bila ia minum membayang terlihat air yang melalui kerongkongannya. Kebiasaan putri ini adalah mandi sore bersama dayang-dayang pengasuhnya di hulu sungai Batang Sosa (di hulu aliran Sungai Barumun yang melalui kerajaan kecil ini). Kebiasaan putri ini rupanya diam-diam diamati oleh seorang pangeran dari sebuah kerajaan ghaib. Kerajaan ghaib ini mempunyai istana di puncak gunung di atas kerajaan putri tersebut yang secara kasat mata saat ini hanya berbentuk gua. Perkenalan putri Hasibuan dan Pangeran Kerajaan Ghaib ini dari hari ke hari membuat putri dan dayang-dayangnya sering hari sudah malam baru...
Setawar Sedingin Kerinduan akan adanya sebuah karya tulis yang bercerita tentang Sungai Berombang dan Sekitarnya yang begitu amat dan teramat langka dan boleh dibilang tidak ada, maka penulis memberanikan diri untuk memulainya, karena bila tak berani memulai sama saja pasrah dengan keadaan yang dekat dengan sebutan apatis dan tak mau tahu. Sumber-sumber informasi lain (karena tulisan dan dokumen tidak ada dijumpai) berupa orang-orang yang mengetahui sejarah Sungai Berombang pun sudah berpulang satu satu, jikalaupun masih ada juga merupakan pendengar dari pendahulunya, bukan merupakan saksi sejarah. Demikian susahnya untuk mencari informasi dan mengkonfirmasi hal-hal yang selama ini penulis ketahui dari penuturan Atok, Nenek, Uwak Pakcik, Makcik, Bunde, Abang, Kakak, serta masyarakat Sei. Berombang lainnya yang penulis dengar dahulu.Terkadang penulis hanya berintuisi dibekali dengan sejarah-sejarah daerah lain dan menganalogikannya dengan kultur, etnis, geografis, dan s...
Pantun adalah genre sastra tradisional yang paling dinamis , karena digunakan pada situasi apapun. Sebagaimana dikatakan bahwa : “Dimana ada orang berkampung disana pantun bersambung. Di mana ada nikah kawin pantun di jalani. Di mana orang berunding di sana pantun bergandeng. Di mana orang bermufakat di sana pantun diangkat. Di mana ada adat di bahas di sana pantun di lepas”. Ungkapan-ungkapan indah senantiasa dilantunkan menjelang, saat prosesi pernikahan, hingga pernikahan usai. Pantun pernikahan tidak hanya berkisar tentang prosesi pernikahan saja, melainkan juga tuah pengantin yang berisi nasehat menghadapi kehidupan yang akan datang. Sebelum membangun bahtera rumah tangga, orang tua Melayu senantiasa berpesan kepada anak-anak mereka agar memilih pasangan yang baik. Orang tua-tua Melayu memberi nasehat agar dalam memilih jodoh hendaknya tidak salah pilih dalam menentukan pasangan hidup, sebagaiman yang tersirat dalam pantun di bawah ini: Siti Wan kembang dari Kelantan nama masy...
Komentar
Posting Komentar