KAITAN PENAMAAN WILAYAH PETISAH DENGAN LEGENDA PUTRI HIJAU

 


KAITAN PENAMAAN WILAYAH PETISAH DENGAN LEGENDA PUTRI HIJAU


Ini kisah yang menyambung antara legenda, sungai Deli, dan jejak istana Kesultanan Deli. 


Ditulis oleh :

Harunsyah Arsyad


Berakar dari Kerajaan Deli Tua di Benteng Putri Hijau


Jauh sebelum Medan ada, pusat kerajaan ada di hulu Sungai Deli, di Desa Deli Tua sekarang (di Selatan Medan Johor).


Ini bekas Kerajaan Aru / Deli Tua abad 13-16. Bentengnya bukan terbuat dari batu bata, tapi tanggul tanah raksasa setinggi 3-4 meter seluas 1500 x 400 meter, diperkuat parit dan rumpun bambu.


Di sinilah hidup Putri Hijau, putri jelita yang legendaris berdarah Karo. Situs ini sampai sekarang masih ada Pancur Gading — pancuran mata air yang dipercaya tempat mandi pribadi sang Putri, airnya jernih, sejuk dan tidak pernah kering.


PERANG BESAR: Deli Tua vs Kesultanan Aceh


Kecantikan Putri Hijau terdengar sampai Aceh. Sultan Aceh datang melamar, tapi ditolak keras oleh dua abangnya: Mambang Yazid dan Mambang Khayali


Penolakan itu menimbulkan perang besar. Pasukan Aceh mengepung Benteng Deli Tua. Strategi Pasukan Aceh licik — mereka menembakkan uang emas ke dalam benteng, membuat prajurit Deli berebut, pertahanan jadi jebol.


Di saat genting itu:

Mambang Khayali menjelma jadi Meriam, terus menembak sampai larasnya panas dan pecah jadi dua. Pecahan ujungnya terlempar jauh sampai ke daerah pegunungan di Tanah Karo dan bagian utamanya sampai sekarang masih terpajang di halaman Istana Maimun.

Mambang Yazid menjelma jadi naga, bersiap membawa lari sang adik menyusuri Sungai Deli ke arah hilir, ke Selat Malaka.


Lahirnya Nama PETISAH


Saat pelarian itu, mereka tidak hanya membawa Putri Hijau. Harta kerajaan — mahkota, dokumen, pusaka — dimasukkan ke dalam beberapa peti besar agar tidak dirampas Pasukan Aceh.


Rombongan melarikan diri menyusuri Sungai Deli. Di sebuah dataran lapang agak ke utara (wilayah yang sekarang jadi Medan Petisah di tepian Sungai Deli), mereka berhenti sejenak.


Di tempat itulah sang abang, Mambang Yazid memeriksa dan memberi titah pengesahan atas isi peti-peti tersebut sebelum dihanyutkan ke hilir menuju Selat Malaka.


Dari pengucapan rakyat: "Peti yang Disahkan" → lama-lama lisan Melayu berubah jadi Petisah.


Jadi secara cerita rakyat, Petisah adalah _check-point terakhir_ kerajaan Deli Tua sebelum runtuh.


KELAHIRAN BARU: Kesultanan Deli di Labuhan Deli (1632)


Setelah Deli Tua runtuh, tahun 1632 datanglah Tuanku Panglima Gocah Pahlawan, laksamana utusan Aceh, mendirikan Kesultanan Deli yang baru.

Pusatnya bukan di Deli Tua lagi, tapi di hilir Sungai Deli— di Pelabuhan Deli (Medan Labuhan sekarang).


Istana pertama sangat sederhana: rumah panggung kayu Melayu di tepi Sungai Deli, fungsinya mengontrol perdagangan lada dan hasil hutan yang keluar lewat pelabuhan kerajaan ini.

Inilah rahim pertama Kesultanan Deli.

MASA TRANSISI: Pindah ke Kota Matsum

Saat tembakau Deli mulai mendunia pertengahan 1800-an, pusat kota bergeser dari pesisir ke pedalaman, ke wilayah Medan sekarang.

Kesultanan membangun Istana Puri di Kota Matsum (sekarang sekitar Jl. Puri, Medan Area). Ini istana transisi — saat Kesultanan sudah makmur dari uang konsensi tanah kerajaan untuk perkebunan tembakau yang disewakan kepada Belanda.

Istana ini sekarang sudah hilang karena pembangunan kota, tinggal namanya jadi nama kelurahan Kota Matsum.

PUNCAK KEJAYAAN: Istana Maimun (1888-1891)


Kekayaan Kesultanan melimpah. Sultan Deli ke-9, *Sultan Ma'mun Al Rasyid Perkasa Alamsyah*, menitahkan membangun istana yang megah juga Mesjid Raya dan Taman untuk kebesaran kerajaan dan rakyat (Kolam Deli). 

Istana Maimun dibangun 26 Agustus 1888 dan diresmikan 18 Mei 1891, dirancang oleh Kapten Van Erp. Arsitekturnya campuran: Melayu, Islam Timur Tengah, pintu lengkung Spanyol, dan lampu kristal Prancis di dalam Balairung.

Istana inilah yang bertahan sampai sekarang sebagai ikon Medan, dan di halamannya masih dirawat Meriam Puntung (tanpa bagian ujung laras) — penghubung langsung kembali ke legenda Putri Hijau.

Petisah Versi Sekarang: Petisah Jadi "Peti Basah"

Pemerintah Kota Medan mencatat versi administratif meliputi batas wilayah antara Sungai Deli di Timur dan Sungai Sikambing di Barat, tapi tetap nyambung dengan kata "peti".

Sekitar tahun 1960-an di Jl. S. Parman (di Barat Petisah) ada pabrik es legendaris "Sari Petojo Es". Es balok besar dikemas pakai peti kayu, sering mencair saat bongkar muat, jadi area sekitar selalu basah.

Warga menyebutnya kawasan "Peti Basah" → lama-lama logat Medan jadi Petisah.

Jadi benang merahnya begini:

Sungai Deli adalah jalurnya. Dari Benteng Putri Hijau di hulu (Deli Tua), harta kerajaan dalam peti disahkan di tepian Sungai Deli di tengah (di sebelah Timur Petisah sekarang), lalu dihanyutkan ke hilir (Medan Labuhan sekarang) menuju lautan (Selat Malaka), akhir dari Kerajaan Deli Tua dan awal dari Kesultanan Deli yang akhirnya bertransformasi menjadi Kota Medan sekarang. 

Legenda dan fakta bertemu di Sungai Deli yang sama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUNGAI BEROMBANG DARI MASA KE MASA

LEGENDA GUA "LIANG NAMUAP" DI SIBUHUAN SOSA

Asal Usul Nama S Dengki di Tanjungbalai